Sunday, 5 January 2025

Log Gamma Ray: Pengertian, Fungsi, dan Aplikasinya dalam Industri Migas

    Log gamma ray (GR) adalah salah satu metode pengukuran yang sering digunakan dalam dunia eksplorasi dan produksi minyak dan gas bumi (migas). Alat ini mengukur intensitas radiasi gamma alami yang dipancarkan oleh batuan di bawah permukaan bumi. Data yang dihasilkan oleh log gamma ray memberikan informasi penting tentang sifat litologi batuan dan kandungan mineralnya.

Pengertian Log Gamma Ray

    Log gamma ray adalah salah satu jenis log geofisika yang mengukur emisi radiasi gamma alami dari batuan. Radiasi gamma ini terutama dihasilkan oleh peluruhan unsur-unsur radioaktif seperti uranium, thorium, dan kalium. Kandungan unsur-unsur ini bervariasi pada setiap jenis batuan, sehingga memungkinkan identifikasi litologi berdasarkan intensitas radiasi yang terdeteksi.

Prinsip Kerja

    Log gamma ray dilakukan dengan menurunkan alat logging yang dilengkapi detektor radiasi gamma ke dalam lubang bor. Saat alat bergerak ke bawah atau ke atas, ia merekam intensitas radiasi gamma pada berbagai kedalaman. Hasil pengukuran ini ditampilkan dalam bentuk grafik atau log yang menunjukkan variasi intensitas gamma terhadap kedalaman.

Fungsi dan Manfaat

Log gamma ray memiliki berbagai fungsi penting dalam industri migas, antara lain:

  1. Identifikasi Litologi
    • Digunakan untuk membedakan jenis batuan, seperti serpih (shale) yang kaya unsur radioaktif dengan batuan pasir (sandstone) atau karbonat yang cenderung memiliki radiasi lebih rendah.
  2. Penentuan Zona Reservoir
    • Membantu dalam mengidentifikasi zona yang berpotensi menjadi reservoir hidrokarbon dengan membedakan lapisan serpih (non-reservoir) dan batuan pasir atau karbonat (reservoir).
  3. Korelasi Antar Sumur
    • Data log gamma ray dari beberapa sumur dapat digunakan untuk mengkorelasikan lapisan batuan di berbagai lokasi.
  4. Penentuan Konten Serpih
    • Mengukur kandungan serpih dalam suatu formasi, yang penting untuk mengevaluasi kualitas reservoir.

Interpretasi Log Gamma Ray

    Interpretasi log gamma ray bergantung pada pola dan nilai radiasi yang terukur. Umumnya, serpih menghasilkan nilai gamma ray tinggi karena kandungan uranium, thorium, dan kalium yang lebih tinggi. Sebaliknya, batuan pasir atau karbonat yang bersih akan menunjukkan nilai gamma ray rendah. Nilai ini sering diukur dalam satuan API (American Petroleum Institute).

  • Nilai Gamma Ray Tinggi: Menunjukkan keberadaan serpih atau batuan yang kaya mineral radioaktif.
  • Nilai Gamma Ray Rendah: Menunjukkan keberadaan batuan pasir, karbonat, atau batuan non-radioaktif lainnya.

Aplikasi Lanjutan

Selain dalam eksplorasi migas, log gamma ray juga digunakan dalam:

  • Eksplorasi Uranium dan Thorium: Untuk mencari endapan mineral radioaktif.
  • Pemantauan Lingkungan: Mengukur radiasi alami di tanah dan air.
  • Eksplorasi Geotermal: Untuk memahami karakteristik batuan bawah permukaan.

Kesimpulan

    Log gamma ray adalah alat penting dalam eksplorasi migas yang memberikan informasi tentang litologi dan sifat batuan di bawah permukaan. Kemampuannya untuk membedakan batuan reservoir dari serpih membuatnya sangat berharga dalam perencanaan pengeboran dan eksploitasi hidrokarbon. Dengan pemrosesan dan interpretasi yang tepat, data log gamma ray dapat meningkatkan efisiensi eksplorasi dan produksi migas.

Sesar Naik, Sesar Turun, dan Sesar Geser: Pengertian, Proses, dan Dampaknya

 Pendahuluan

Sesar adalah suatu zona patahan di mana terjadi pergeseran batuan di sepanjang retakan atau patahan tersebut. Sesar terbentuk akibat adanya pergerakan kerak bumi yang disebabkan oleh gaya tektonik, seperti gaya kompresi, ekstensial, atau geseran horisontal. Berdasarkan arah pergerakan batuan yang terjadi di sepanjang patahan, sesar dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis utama: sesar naik (thrust fault), sesar turun (normal fault), dan sesar geser (strike-slip fault). Masing-masing jenis sesar ini memiliki ciri khas dan proses yang berbeda, serta dampak yang beragam terhadap lingkungan dan kehidupan manusia.

1. Sesar Naik (Thrust Fault)

Pengertian: Sesar naik adalah jenis sesar di mana blok batuan yang lebih tinggi bergerak naik relatif terhadap blok batuan yang lebih rendah. Sesar ini terjadi akibat adanya gaya kompresi yang mendorong kerak bumi menjadi lebih rapat. Sesar naik umumnya ditemukan di daerah yang mengalami konvergensi, yaitu di mana dua lempeng tektonik bergerak saling mendekat.

Proses Terbentuknya: Pada sesar naik, dua blok batuan yang terpisah oleh sesar bergerak saling bertabrakan, dengan blok yang lebih tinggi bergerak ke atas di atas blok yang lebih rendah. Proses ini sering kali terjadi pada zona subduksi, di mana satu lempeng tektonik didorong ke bawah oleh lempeng lainnya.

Contoh dan Lokasi: Sesar naik banyak ditemukan di daerah pertemuan dua lempeng tektonik yang mengalami kompresi, seperti Pegunungan Himalaya dan Pegunungan Andes. Di Indonesia, sesar naik juga dapat ditemukan di daerah pertemuan lempeng Sunda dan lempeng Australia.

Dampak: Sesar naik dapat menyebabkan terjadinya gempa bumi yang kuat, karena pergeseran yang terjadi dapat memicu pelepasan energi secara tiba-tiba. Selain itu, sesar ini juga berpotensi membentuk pegunungan atau cekungan baru, yang mempengaruhi lanskap dan ekosistem di sekitarnya.


2. Sesar Turun (Normal Fault)

Pengertian: Sesar turun adalah sesar di mana blok batuan yang lebih tinggi bergerak turun relatif terhadap blok batuan yang lebih rendah. Sesar ini terjadi akibat gaya ekstensional atau tarikan yang menyebabkan kerak bumi merenggang. Sesar turun biasanya ditemukan di daerah yang mengalami pemekaran, yaitu di mana dua lempeng tektonik saling menjauh.

Proses Terbentuknya: Pada sesar turun, dua blok batuan terpisah oleh sesar dan salah satu blok mengalami penurunan posisi relatif terhadap blok lainnya. Gaya ekstensional menyebabkan kerak bumi tertarik, sehingga terbentuklah sesar turun yang mengarah ke bawah. Proses ini dapat menciptakan lembah atau cekungan.

Contoh dan Lokasi: Sesar turun banyak ditemukan di daerah yang mengalami pemekaran kerak bumi, seperti di Rift Valley di Afrika Timur dan wilayah Great Basin di Amerika Serikat. Di Indonesia, sesar turun dapat ditemukan di beberapa bagian wilayah yang mengalami pemekaran kerak, seperti di wilayah Jawa bagian timur.

Dampak: Sesar turun dapat membentuk lembah atau cekungan yang luas, yang terkadang menjadi tempat akumulasi air atau sedimen. Di samping itu, gempa bumi yang disebabkan oleh sesar ini biasanya lebih kecil intensitasnya dibandingkan dengan sesar naik. Namun, aktivitas sesar turun dapat mempengaruhi penggunaan lahan, terutama di daerah yang rawan longsor atau banjir.


3. Sesar Geser (Strike-Slip Fault)

Pengertian: Sesar geser adalah sesar di mana pergerakan relatif antara dua blok batuan terjadi secara horizontal, bukan vertikal. Dalam sesar geser, satu blok batuan bergerak ke kiri atau ke kanan relatif terhadap blok yang lain. Sesar geser biasanya terjadi di daerah yang mengalami gaya geser horisontal.

Proses Terbentuknya: Pada sesar geser, pergerakan terjadi hampir sejajar dengan permukaan tanah, dengan gaya tektonik yang menyebabkan pergeseran lateral antar dua blok. Gerakan ini tidak menyebabkan perubahan besar pada ketinggian atau kedalaman tanah, tetapi dapat menyebabkan pergeseran garis pantai, jalur rel kereta api, atau jalan raya.

Contoh dan Lokasi: Sesar geser yang paling terkenal adalah Sesar San Andreas di California, Amerika Serikat. Sesar ini merupakan salah satu sesar geser terbesar di dunia dan terkenal karena aktivitas gempa bumi yang sering terjadi di sepanjang sesar ini.

Dampak: Sesar geser dapat menyebabkan kerusakan pada infrastruktur seperti jalan, jembatan, dan bangunan yang berada di sepanjang sesar. Gempa bumi yang disebabkan oleh pergerakan sesar geser sering kali menghasilkan pergeseran yang cukup besar secara horizontal, yang dapat menyebabkan kerusakan signifikan di daerah yang terpengaruh.


Jenis Sesar

Arah Pergerakan

Penyebab Utama

Contoh

Sesar Naik

Vertikal (naik)

Gaya kompresi

Pegunungan Himalaya & Andes

Sesar Turun

Vertikal (turun)

Gaya ekstensional

Rift Valley & Great Basin

Sesar Geser

Horizontal

Gaya geser horizontal

Sesar San Andreas


Kesimpulan

    Sesar naik, sesar turun, dan sesar geser merupakan tiga jenis utama sesar yang terbentuk akibat pergerakan kerak bumi yang dipengaruhi oleh gaya tektonik. Setiap jenis sesar memiliki proses terbentuk yang berbeda dan dampak yang bervariasi terhadap lingkungan dan manusia. Pahami karakteristik masing-masing sesar ini sangat penting untuk mitigasi bencana, perencanaan wilayah, dan pemahaman lebih dalam mengenai dinamika bumi.


Sunday, 9 June 2024

Koefisien Refleksi pada Interpretasi Data Seismik

    Dalam industri geofisika, interpretasi data seismik menjadi kunci untuk memahami struktur bawah permukaan bumi. Koefisien refleksi, yang terkait erat dengan impedansi akustik, memainkan peran krusial dalam membantu geofisikawan menganalisis dan menafsirkan data seismik. Artikel ini membahas konsep koefisien refleksi dan bagaimana hubungannya dengan impedansi akustik.
    Koefisien refleksi adalah suatu nilai yang merepresentasikan bidang batas antara dua medium yang memiliki impedansi akustik berbeda Gelombang yang terefleksi dibawah permukaan akan terjadi apabila pada suatu perlapisan terdapat perubahan nilai atau kontras AI. Koefisien refleksi dapat bernilai positif maupun negatif tergantung pada besarnya impedansi akustik dari medium yang bersangkutan. Hubungan dari impedansi akustik dengan koefisien refleksi digambarkan pada Gambar 1.. Menurut (Pratiwi, 2017) persamaan dari nilai koefisien refleksi dapat dituliskan sebagai berikut :


dengan,
AI1 : Accoustic Impedance Lapisan Satu
AI2 : Accoustic Impedance Lapisan Dua
RC
: Reflection Coefisient (Koefisien Refleksi)

Gambar 1. Hubungan antara koefisien refleksi dengan Impedansi Akustik (Keary, dkk. 2002)

    Impedansi akustik memainkan peran penting dalam menentukan seberapa efisien gelombang suara dipantulkan kembali pada batas antara dua medium. Semakin besar perbedaan impedansi antara dua medium, semakin besar koefisien refleksi yang dihasilkan. Sebaliknya, jika impedansi kedua medium hampir sama, koefisien refleksi akan menjadi lebih kecil, yang berarti lebih sedikit energi yang dipantulkan kembali dan lebih banyak energi yang ditransmisikan ke medium lain.


Saturday, 8 June 2024

Acoustic Impedance dalam Interpretasi Data Seismik

Data seismik merupakan salah satu alat utama dalam eksplorasi minyak dan gas bumi. Ini memungkinkan geologis untuk menggambarkan struktur dan sifat lapisan bumi di bawah permukaan. Namun, untuk menganalisis dan menafsirkan data seismik dengan akurat, penting untuk memahami konsep fisika yang mendasarinya, termasuk impedansi akustik dan peranannya dalam pembentukan wavelet sintetik.
Pada dasarnya, bumi memilki perlapisan batuan dengan sifat fisis yang berbeda – beda terutama massa jenis batuan (ρ) yang menyebabkan nilai cepat rambat (V) pada masing – masing lapisan yang dilalui oleh gelombang seismik memiliki nilai yang berbeda. Impedansi akustik merupakan kemampuan suatu batuan untuk melewatkan gelombang seismik yang melaluinya. Impedansi Akustik didapatkan dari hasil perkalian antara kecepatan gelombang (v) dengan densitas batuan (ρ). (Pratiwi,2017). Secara matematis, Impedansi akustik dirumuskan sebagai berikut :

AI = V x 𝜌
dengan, 
AI    : Acoustic Impedance
V     : Kecepatan Gelombang
𝜌      : Densitas

Pengaruh Impedansi Akustik pada Wavelet Sintetik
Wavelet sintetik adalah fungsi matematis yang merepresentasikan respons seismik yang diharapkan dari satu titik sumber pada permukaan bumi. Pembentukan wavelet sintetik sangat dipengaruhi oleh impedansi akustik lapisan batuan yang dilewati oleh gelombang seismik. Berikut adalah beberapa pengaruh utama impedansi akustik pada pembentukan wavelet sintetik:
  1. Refleksi dan Transmisi: Ketika gelombang seismik bertemu dengan antarmuka antara dua lapisan batuan dengan impedansi akustik yang berbeda, sebagian energi dapat direfleksikan kembali ke permukaan dan sebagian dapat ditransmisikan ke lapisan di bawahnya. Proporsi energi yang direfleksikan dan ditransmisikan tergantung pada perbedaan impedansi akustik antara dua lapisan tersebut.

  2. Amplitudo dan Fasa: Perbedaan impedansi akustik antara batuan yang berdekatan menghasilkan perubahan amplitudo dan fasa gelombang seismik. Amplitudo gelombang seismik yang diterima di detektor bumi dipengaruhi oleh kontras impedansi akustik antara formasi target dan formasi di sekitarnya. Wavelet sintetik mencoba merepresentasikan variasi ini dalam amplitudo dan fasa.

  3. Kualitas Resolusi: Perubahan tajam dalam impedansi akustik antara lapisan batuan dapat menyebabkan variasi dalam resolusi temporal dan spasial pada data seismik. Semakin besar perbedaan impedansi akustik, semakin tajam kontras dalam respons seismik, yang memungkinkan identifikasi yang lebih baik dari antarmuka batuan.

  4. Interpretasi Geologis: Informasi tentang impedansi akustik dapat membantu geologis dalam mengidentifikasi dan memetakan struktur geologi di bawah permukaan. Variasi dalam impedansi akustik dapat mengindikasikan adanya perubahan litologi, distribusi fluida, atau zona struktural penting lainnya.

Kesimpulan
Impedansi akustik adalah parameter penting dalam interpretasi data seismik, mempengaruhi pembentukan wavelet sintetik dan pemahaman struktur geologi di bawah permukaan. Memahami konsep ini membantu dalam analisis data seismik dan pengambilan keputusan yang lebih baik dalam eksplorasi dan produksi minyak dan gas bumi. Dengan terus mengembangkan pemahaman tentang hubungan antara impedansi akustik dan respons seismik, industri energi dapat meningkatkan efisiensi eksplorasi dan eksploitasi sumber daya bumi.

Sunday, 2 June 2024

Menguasai Dasar Excel: Panduan Praktis untuk Penjumlahan, Pengurangan, dan Perhitungan Rata-rata.

    Microsoft Excel telah menjadi alat yang tak tergantikan dalam dunia bisnis, pendidikan, dan bahkan kehidupan sehari-hari. Dari perencanaan anggaran hingga analisis data yang rumit, Excel menyediakan beragam fungsi dan rumus untuk membantu penggunanya mengelola informasi dengan efisiensi dan akurasi.
    Salah satu kekuatan utama Excel terletak pada kemampuannya untuk melakukan perhitungan matematika secara cepat dan tepat. Dalam artikel ini, kami akan membahas tutorial langkah demi langkah tentang cara menggunakan rumus Excel yang paling mendasar dan penting: penjumlahan, pengurangan, dan perhitungan rata-rata. Apakah Anda seorang pemula yang baru mengenal Excel atau seorang pengguna yang ingin meningkatkan keterampilan Anda, panduan ini akan membantu Anda memahami dasar-dasar penggunaan rumus Excel dengan mudah dan efektif.

Mari kita mulai dengan menjelajahi langkah-langkah sederhana untuk menggunakan rumus ini dan bagaimana mereka dapat diterapkan dalam berbagai situasi penggunaan sehari-hari.

1.) Penjumlahan
    Dalam penjumlahan dengan menggunakan Excel, dapat dilakukan dengan mengetikkan 'sum=(Cell yang ingin dijumlahkan) kemudian tekan enter. rumus ini akan mempermudah dalam penjumlahan dalam kuantitas yang banyak secara otomatis, akurat dan efisien. Berikut pada Tabel 1. contoh dari penjumlahan otomatis pada Excel. 
Tabel 1. Contoh penjumlahan otomatis pada excel
2.) Pengurangan
    Pengurangan dalam excel cukup dengan mengetikkan '=Cell yang ingin dikurangi-Cell untuk pengurangan'. Pengurangan dalam excel juga cukup mudah dan dapat dilakukan secara otomatis. Berikut pada Tabel 2. adalah contoh pengurangan pada excel. Pengurangan dapat dilakukan dengan mengurangi modal dengan total pengeluaran ataupun dengan cara modal dikurangi dengan semua cell pengeluaran.
Tabel 2. Contoh pengurangan pada excel

3.) Perhitungan Rata- rata
    Perhitungan rata - rata dengan menggunakan excel dapat dilakukan hanya dengan mengetikkan persamaan '=Average(Cell yang ingin di rata-rata)' untuk contoh dalam penggunaan persamaan ini dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Contoh Perhitungan Rata - rata pada excel

Demikian pembahasan dalam blog "Menguasai Dasar Excel: Panduan Praktis untuk Penjumlahan, Pengurangan, dan Perhitungan Rata-rata". Dengan memahami dasar - dasar dalam penggunaan excel, perhitungan - perhitungan dalam jumlah yang banyak akan menjadi efisien dan lebih mudah. 




Petrel Schlumberger : Tutorial Input Data Seismik

    Dalam industri minyak dan gas, pemahaman yang mendalam tentang kondisi bawah permukaan adalah hal yang sangat krusial untuk kesuksesan eksplorasi dan produksi. Data seismik dan data sumur menjadi dua sumber informasi utama yang digunakan untuk membentuk gambaran yang akurat tentang struktur geologi dan sifat reservoir di bawah permukaan.

Seismik merupakan teknik penting dalam pemetaan geologi bawah permukaan. Ini memungkinkan para geofisikawan untuk mendapatkan gambaran tiga dimensi tentang lapisan batuan dan struktur geologi dengan memantulkan gelombang suara ke dalam bumi. Di sisi lain, data sumur menyediakan informasi langsung dari lubang bor yang telah dilakukan di lokasi tertentu. Ini termasuk informasi tentang litologi, porositas, saturasi fluida, tekanan, dan parameter reservoir lainnya.

Dalam konteks ini, perangkat lunak seperti Petrel dari Schlumberger menjadi alat yang sangat berharga. Petrel adalah platform perangkat lunak yang digunakan untuk integrasi, interpretasi, dan analisis data geologi dan geofisika. Dalam artikel ini, kita akan membahas cara memasukkan dan memanfaatkan data seismik dan data sumur di Petrel untuk membangun model geologi dan reservoir yang lebih akurat. 

Melalui panduan ini, pembaca akan diperkenalkan pada langkah-langkah praktis untuk mengimpor data seismik dan data sumur ke dalam lingkungan Petrel, mengintegrasikannya, dan kemudian menggunakan informasi tersebut untuk membangun model geologi dan reservoir yang lebih komprehensif. Kami akan membahas berbagai teknik dan alat yang tersedia dalam Petrel untuk memvisualisasikan, menganalisis, dan menginterpretasikan data dengan cara yang efisien dan efektif.

Dengan pemahaman yang mendalam tentang cara menggunakan data seismik dan data sumur dalam perangkat lunak Petrel, para profesional di industri minyak dan gas akan dapat meningkatkan ketepatan dan keberhasilan dalam pengambilan keputusan eksplorasi dan produksi. Semoga artikel ini menjadi panduan yang berguna dan bermanfaat bagi pembaca dalam mengoptimalkan penggunaan sumber daya alam yang berharga ini.

Berikut adalah langkah - langkah dalam proses input data seismik dan data sumur :

1.) Input Data Seismic
    Input data seismik dengan pada software petrel dengan meng-klik kanan pada window input dan memilih menu import file, kemudian pilih data seismik yang ingin di-input dan pilih open. seperti pada Gambar 1. Pada umumnya, data seismik memiliki format SEG-Y dan ZGY.

Gambar 1. Import Seg-y file.

2.) Cek Data Seismik pada Window
    Data seismik dapat dilihat apakah sudah terinput pada software Petrel Schlumberger dengan membuka menu window dan pilih interpretation window seperti pada Gambar 2. untuk melihat secara 2D Inline dan Xline nya hingga muncul tampilan interpretation window seperti pada Gambar 3. Untuk mengubah tampilan dari Xline ataupun Inline dapat dilakukan dengan mengubah ceklis pada bagian input yang ada disebelah kiri.

Gambar 2. Interpretation Window.

Gambar 3. Tampilan Interpretation Window

3.) Cek Data Seismik Pada 3D Window
    Untuk melihat data seismik pada tampilan 3D dapat dilakukan dengan membuka window kemudian pilih 3D Window seperti pada Gambar 4.

Gambar 4. 3D Window

Untuk memunculkan Z-Slice pada data seismik dapat dilakukan dengan klik kanan pada data seismik kemudian pilih insert time slice intersection seperti pada Gambar 5.. Kemudian cek apakah Z-Slice telah masuk dan terbaca pada software dengan melihat dibagian input dan dapat dilihat pada 3D Window Gambar 6.

Gambar 5. Insert Time Slice Intersection.

Gambar 6. Tampilan 3D Window

Data seismik telah terinput dan terbaca dengan baik pada software sehingga dapat digunakan untuk interpretasi.

Friday, 11 August 2023

Hampson Russell : Tutorial Input Data Sumur dan Data Checkshot

     Hampson Russell adalah rangkaian alat analisis seismik yang dukembangkan oleh perusahaan Hampson-Russell, yang didirikan oleh Dr. Brian Russell dan Dr. Fred Hampson pada tahun 1987. Dalam industri oil and gas, Hampson russell merupakan salah satu software yang sering untuk proses analisis data seismik dan petrofisika. Software ini memiliki fitur yang cukup lengkap sehingga pada ahli geofisika akan terbantu dalam proses analisis data seismik dan petrofisika hingga saat ini. Blog ini akan membahas tentang tutorial atau langkah - langkah input data seismik dan data sumur menggunakan software ini. software Hampson russell pada blog ini menggunakan Hampson Russell versi 10.0.2. Berikut merupakan langkah - langkah input data sumur pada software Hampson Russell

1. Membuat projek baru (New Project)

    Tahap pertama yang dilakukan sebelum melakukan analisis data menggunakan Hampson Russell adalah dengan membuat database baru. database ini akan digunakan sebagai lokasi penyimpanan projek yang akan dikerjakan.

Gambar 1. Tampilan awal hampson russell versi 10.0.2.

Gambar 1. merupakan tampilan awal Hampson Russell versi 10.0.2. Pada tampilan tersebut terdapat beberapa menu yang dapat digunakan. Untuk memulai projek baru, dapat dilakukan dengan memilih menu new project hingga muncul tampilan seperti pada Gambar 2.

Gambar 2. Tampilan ekstensi file.

Gambar 2. adalah tampilan yang akan muncul setelah memilih new project. Tahap ini hanya memberikan nama projek yang akan dikerjakan. Nama file projek harus sambung dan tidak dapat menggunakan spasi untuk penamaannya. Kemudian pilih OK hingga muncul tampilan seperti pada Gambar 3.

Gambar 3. Specify a database for the project.

Gambar 3. merupakan tampilan yang akan muncul selanjutnya. Pilih "use database below" apabila ingin meletakkan file sesuai dengan rekomendasi software. Pilih specify database untuk meletakkan file sesuai dengan keinginan. Kemudian pilih OK hingga muncul tampilan seperti pada Gambar 4.. Database baru untuk penyimpanan file telah selesai dibuat.

2. Input data sumur

Gambar 4. Tampilan untuk memulai project & langkah awal input data sumur.

Gambar 4. adalah tampilan yang akan muncul setelah membuat database baru. untuk tahap memasukkan data sumur ke dalam software hampson russell, pilih import well kemudian pilih log, checkshot, dll. seperti pada gambar yang telah ditandai dengan kotak berwarna merah.

Gambar 5. Tampilan memilih file LAS. untuk input data sumur.
Langkah selanjutnya adalah mengatur log format option menjadi data LAS. dan memilih data sumur yang ingin digunakan kemudian tekan select hingga data sumur yang dipilih pindah ke kolom bagian kanan. Untuk melanjutkan ke tahap selanjutnya, pilih menu advance option seperti pada Gambar 6.

Gambar 6. Pilih advance option. 


Gambar 7. Tampilan setting data sumur sesuai dengan wellhead.

Gambar 7. adalah tampilan yang akan muncul setelah memilih menu advance option. Pada tahap ini, data sumur yang telah dimasukkan diatur sesuai dengan data wellhead yang disediakan pada data sumur. Pengaturan ini meliputi UWI, surface elevation, well type, dan kelly bushing. Kemudian pilih next hingga muncul tampilan seperti pada Gambar 8.

Gambar 8. Pemilihan jenis log yang akan digunakan.

Memilih jenis log yang ingin digunakan. Pada umumnya, log yang digunakan dalam analisis data sumur di software ini adalah log resistivitas, gamma ray, porosity, NPHI, density dan log saturation water. Data log yang digunakan disesuaikan dengan target analisis yang ingin dilakukan. Setelah itu pilih OK hingga muncul tampilan seperti pada Gambar 9.

Gambar 9. Tampilan data sumur yang telah berhasil di input.

3. Input checkshot

Gambar 10. Langkah awal input checkshot

Tahap awal dalam memasukkan data checkshot adalah memilih menu import well dan sama seperti pada tahap memasukkan data sumur.

Gambar 11. Tampilan memilih file LAS. untuk input data checkshot.

Memasukkan data checkshot dengan mengatur log file format menjadi General ASCII dengan Type of Data : Logs kemudian pilih next untuk ke tahap selanjutnya.

Gambar 12. Penyesuaian data yang di input dengan data LAS.

Gambar 12. adalah tampilan yang akan muncul setelah memilih next. Pada tahap ini, data checkshot yang di input disesuaikan pengaturannya dengan data LAS. pada checkshot dengan mengatur kolom dan row sesuai dengan data LAS. Kemudian pilih next.

Gambar 13. Pengaturan destinasi checkshot pada data sumur yang dituju.

Mengatur destinasi checkshot sesuai dengan data sunurnya. Tahap input data checkshot telah selesai.

Petrel 2020 : RGB Blending Structural

Pendahuluan RGB Blend merupakan salah satu teknik visualisasi atribut seismik yang digunakan untuk meningkatkan interpretasi struktur bawa...